SELAMAT DATANG DI BLOG PONTREN DARUL QUR'AN CIMALAKA

KAMI SENANG ANDA DAPAT BERSILATURAHMI MELALUI BLOG KAMI 

VOKAL GROUP 'ARABI SANTRI DQ

VOKAL GROUP 'ARABI SANTRI DQ

MENERIMA SANTRI+SISWA BARU

TELAH DI BUKA PENDAFTARAN SANTRI-MURID BARU PONTREN DARUL QUR'AN TAHUN AJARAN 2012-2013 UNTUK PROGRAM: MTs TERPADU DQ + NYANTRI; NYANTRI + SEKOLAH FORMAL DI LUAR PONTREN; PAUD-TK ISLAM PLUS; DINIYAH TAKMILIYAH

Senin, 07 September 2009

Dzikir dan Do'a 1

DO'A DAN DZIKIR PILIHAN
تحفة الأخيار ببيان جملة نافعة مما ورد في الكتاب والسنة من الأدعية والأذكار

ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ
عبدالعزيز بن عبدالله بن باز

Penerjemah :
ABU IBRAHIM SUWITO
ترجمة: أبو إبراهيم سوويتو
Murajaah :
MUHAMMADUN ABD HAMID, MA
DR.MUH.MU’INUDINILLAH BASRI, MA
FIR'ADI NASRUDDIN ABDULLAH, LC
ERWANDI TARMIZI

Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah
المكتب التعاوني للدعوة وتوعية الجاليات بالربوة بمدينة الرياض
1428 – 2007


PENGANTAR PENERJEMAH

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah U yang telah memberikan inayah dan hidayah-Nya, sehingga terjemahan buku kecil ini dapat diselesaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Buku kecil berjudul “Tuhfatul Akhyar bibayaani Jumlah Nafi’ah mimmaa warada fil kitab was sunnah minal ad’iyah wal adzkar“, ini berisi do’a-do’a dan dzikir-dzikir yang dituntunkan Rasulullah r melalui kehidupan beliau sehari-hari.
Dalam penyusunan buku ini penulis mengawali penyajiannya dengan penjelasan-penjelasan tentang pentingnya kedudukan dzikir dan do’a berdasarkan pernyataan ayat-ayat Al-Qur’an Al-Karim, hal ini menggugah kita ummat Islam untuk menyadari betapa pentingnya masalah ini.
Setiap muslim sadar bahwa upaya dan usaha yang dilakukan dalam kehidupan dunia ini tidak terlepas dari kehendak Allah U. Setiap muslim menyadari kelemahan dan ketidakmampuan dirinya dalam menentukan hasil dari usaha dan upaya yang dilakukan. Ia yakin bahwa keputusan hasil terakhir berada di tangan Allah U.
Di samping itu, tanpa sepengetahuan dan kesadaran dirinya manusia tidak terlepas dari godaan makhluk Allah yang lain, yakni godaan syetan, baik yang berupa jin atau manusia. Itulah sebabnya, maka manusia harus selalu berdo’a kepada Allah Yang Maha Kuasa agar di dalam usaha selalu mendapat petunjuk dan pertolongan-Nya serta dijauhkan dari segala bencana. Sesungguhnya Allah U Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Dalam usaha menyajikan terjemahan buku kecil ini ada beberapa catatan yang perlu saya sampaikan agar tidak menimbulkan tanda tanya bagi para pembaca, terutama yang mempunyai buku aslinya dalam bahasa arab. Semoga dapat memakluminya. Di antara yang mendapat catatan adalah sebagai berikut:
1. Judul buku ini sangat panjang dan bila diterjemahkan secara keseluruhan dalam bahasa Indonesia rasanya agak janggal. Oleh karena itu dalam terjemahan ini judul diperpendek namun tetap cukup mewakili pengertian isi yang terkandung di dalamnya.
2. Terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an dalam buku ini sengaja saya ambil dari kitab terjemahan Al-Qur’an yang telah diakui keabsahannya oleh masyarakat luas, yakni “Al-Qur’an dan Terjemahan” yang diterbitkan oleh Departemen Agama RI.
3. Pada pasal terakhir buku asli, terdapat judul “Do’a mengunjungi orang sakit“, namun dalam naskah asli do’a-do’a tersebut tidak didapatkan. Untuk itu penerjemah memberanikan diri manambah isi pasal tersebut dengan do’a-do’a sesuai dengan judul pasal tersebut, berupa do’a-do’a yang diajarkan Rasulullah r. Semoga niat baik ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.
Segala kekurangan, kekeliruhan dan kealpaan dalam terjemahan ini, penerjemah mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca. Hanya kepada Allah U saya serahkan segala urusan.

Jakarta, 5 Dzul Qa'dah 1412 H
7 Mei 1992 M

Penerjemah

Abu Ibrahim Suwito














PENDAHULUAN

Segala puji hanya milik Allah U, kita memuji-Nya, memohon inayah dan ampunan-Nya serta kita mohon perlindungan-Nya dari bahaya yang menimpa jiwa, dan keburukan amal kita. Siapa saja yang Allah beri petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan siapa saja yang dikehendaki Allah kesesatan maka tiada orang yang mampu untuk memberikan petunjuk.
Kita bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Ilah yang layak disembah melainkan Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan kita bersaksi bahwa Muhammad adalah seorang hamba dan rasul Allah. Semoga Allah U memberikan rahmat dan kesejahteraan atas beliau, keluarga, para sahabat, dan siapa saja yang mengikuti jejak mereka dalam kebajikan sampai hari kiamat.
Sesungguhnya sebaik-baik yang dilakukan dan diucapkan lisan seseorang adalah memperbanyak dzikir kepada Allah U, bertasbih, bertahmid kepada-Nya, membaca kitab-Nya, membaca salawat serta salam atas rasul-Nya Muhammad r serta memperbanyak do’a permohonan kepada Allah U atas segala kebaikan hidup beragama maupun keduniaan, memohon ampunan dengan penuh segala harapan disertai keimanan yang benar, ikhlas dan tulus.
Barangsiapa yang berdzikir dan berdo’a hendaknya agar selalu berusaha menghadirkan hatinya dengan mengingat keagungan, kekuasaan dan ke Maha Ilmuan Allah U atas segala sesuatu, sehingga hanya Allah U yang berhak di sembah.
Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah r, yang menerangkan tentang keutamaan-keutamaan dzikir dan do’a, kita ungkapkan sebagian kecil di sini, di antaranya:
Allah U berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohon ampunan untukmu) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan menuju cahaya (yang terang) dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”. (QS. Al Ahzab: 41-43).
“Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat-Ku).” (QS. Al Baqarah: 152).
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Al Ahzab: 35).
“Sesunguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring”. (QS. Ali Imran: 190-191).
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh) maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya (memperbanyak dzikir dan do’a) agar kamu beruntung”. (QS. Al Anfa : 45).
“Apabila kamu telah meyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana engkau menyebut-nyebut(membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu…”.(QS. Al Baqarah: 200).
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah, barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (QS. Al Munafiqun: 9).
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual-beli dari mengingat Allah dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat, mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang”. (QS. An Nur: 37).
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’raf: 205).
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS. Al Jumu’ah: 10).
Memperbanyak dzikir kepada Allah U serta berdo’a kepada dzat yang Maha Suci suatu hal yang disunnahkan pada setiap saat dan kesempatan, baik di waktu pagi maupun pada waktu petang, ketika hendak tidur maupun ketika bangun, ketika keluar dan masuk rumah, serta ketika keluar dan masuk masjid, sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat terdahulu dan juga ayat-ayat berikut:
“Dan bertasbihlah sambil memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya)”. (QS. Qaaf: 39).
“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka mencari keridhaan-Nya”. (QS. Al An’am: 52).
“Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka, hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang”. (QS. Maryam: 11).

“Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri (bangun dari tidur). Dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar)”. (QS. Ath Thuur: 48-49).
“Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nya lagi segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu dzuhur”. (QS. Ar Rum: 17-18).
“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS. Ghafir: 60).

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku”. (QS. Al Baqarah: 186).
“Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya, dan berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al A’raaf: 55-56).
“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepadanya. Dan yang menghilangkan kesusahan”. (QS. An Naml: 62).

Dalam hadits riwayat Imam Muslim dari Uqbah bin Amir t ia berkata:
(( خَرَجَ رَسُولُ اللهِ r وَنَحْنُ فِي الصُّفَّةِ, أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلىَ بَطْحَانَ وَإِلىَ الْعَتِيْقِ فَيَأْتِيْ بِنَاقَتَيْنِ كُوْمَاوَيْنِ فِيْ غَيْرِ إِثْمٍ وَلاَ قَطْعِ رَحِمٍ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ نُحِبُّ ذَلِكَ. قَالَ: أَفَلاَ يَغْدُوْ أَحَدُكُمْ إِلىَ الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمُ أَوْ يَقْرَأُ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللهِ U فَكَانَ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ اْلإِبِلِ ))
“Suatu ketika Rasulullah r keluar (dari rumah beliau) sedang kami berada di Shuffah (suatu tempat para shahabat berkumpul di samping masjid) kemudian beliau bertanya: “Siapa di antara kalian yang suka pergi ke Bathhan atau Al Atiq kemudian pulang dengan membawa dua ekor unta yang bagus-bagus tanpa berbuat dosa atau memutuskan tali persaudaraan? kami menjawab: “Kami semua ingin akan hal tersebut” Rasulullah r bersabda: “Mengapa engkau tidak pergi ke masjid maka di sana engkau bisa belajar atau membaca dua ayat dari kitab Allah U maka hal tersebut akan lebih baik dari dua unta dan bila belajar atau membaca tiga ayat atau empat ayat maka akan lebih baik dari tiga atau empat unta dan selanjutnya setiap hitungan sama dengan hitungan unta”. (HR Muslim).
Diriwayatkan oleh Bukhari dari Utsman bin Affan t dari Nabi r, beliau bersabda:
(( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ ))
“Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya". (HR. Bukhari).
Dalam shahih Muslim dari Abi Umamah Al Bahili t ia berkata, telah bersabda Rasulullah r :
(( اقْرَأُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا ِلأَصْحَابِهِ ))
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Al-Qur’an itu akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafa’at bagi orang yang membacanya”. (HR. Muslim).
Dalam hadits riwayat Muslim yang lain dari An Nawas bin Sam’an t menyatakan bahwa Rasulullah r bersabda:
(( يُؤْتَى بِالْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَهْلِهِ الَّذِيْنَ كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ بِهِ تَقْدُمُهُ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ وَآلِ عِمْرَانَ وَضَرَبَ لَهُمَا رَسُولُ اللهِ r مِنْ ثَلاَثَةِ أَمْثَالٍ مَا نَسِيْتُهُنَّ بَعْدُ. قَالَ : كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ ظُلُمَتَانِ سَوْدَاوَانِ بَيْنَهُمَا شَرَقٌ أَوْ كَأَنَّهُمَا حِزْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا ))
“Akan datang Al-Qur’an bersama ahlinya yang mengamalkannya. Yang paling depan adalah surat Al-Baqarah dan surat Ali-Imran. Rasulullah r memberikan tiga permisalan yang tidak akan aku lupakan selamanya: “Seakan-akan surat Al-Baqarah dan surat Ali Imran seperti dua awan atau dua kegelapan yang pekat sedangkan di antara keduanya terdapat berkas cahaya yang terbit. Atau seakan-akan seperti dua kelompok kumpulan burung-burung yang membela pemiliknya masing-masing”. (HR Muslim).
Dari Abdullah bin Mas’ud t, ia berkata; Aku mendengar Rasulullah r bersabda:
(( مَنْ قَرَأَ حَرْفاً مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُوْلُ â $O!9# á حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيْمٌ حَرْفٌ ))
“Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebajikan, sedangkan satu kebajikan dilipat-gandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf". (HR. Tirmidzi dengan sanad hasan).
Banyak sekali hadits-hadits Rasulullah r yang telah menetapkan keutamaan dzikir, tahmid, tahlil, tasbih, do’a dan istighfar pada setiap waktu, terutama pada penghujung malam dan siang, sesudah shalat-shalat fardhu yang lima. Kami sebutkan di antaranya:
(( سَبَقَ الْمُفَرِّدُوْنَ، قَالُوْا: يَا رَسُولَ اللهِ مَنِ الْمُفَرِّدُوْنَ؟ قَالَ: الذَّاكِرُوْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَات ))
“Telah mendahului kalian orang-orang yang istimewa, para shahabat bertanya: “Siapakah orang-orang istimewa itu wahai Rasulullah?”. Rasulullah r menjawab: “Orang-orang yang istimewa adalah laki-laki dan perempuan yang selalu berdzikir kepada Allah U” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).


Beliau r juga bersabda:
(( أَحَبُّ الْكَلاَمِ إِلىَ اللهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ, لاَ يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ ))
“Bersabda Rasulullah r: "Perkataan yang paling di sukai oleh Allah U ada empat, yaitu; Subhanallah, walhamdu lillah walaa ilaaha illallah wallahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji hanya milik Allah, tiada sesembahan yang haq kecuali Allah, dan Allah Maha Besar). Tiada masalah darimana ucapan tersebut engkau mulai". (HR. Muslim).
Demikian pula dalam riwayat Muslim dari Sa'ad bin Waqqas t berkata:
(( جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى رَسُولِ اللهِ r فَقَالَ: عَلِّمْنِيْ كَلاَمًا أَقُوْلُهُ، قَالَ : قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ هَؤُلاَءِ لِرَبِّيْ فَمَا لِيْ ؟ قَالَ : قُلِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَارْزُقْنِيْ ))
“Pernah datang kepada Rasulullah r seorang baduwi seraya berkata: “Ajarkanlah kepadaku suatu ucapan yang selalu aku ucapkan”. Rasulullah r menjawab: “ucapkanlah:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ
"Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Allah Maha Besar, segala puji hanya milik Allah dengan sebanyak-banyak pujian, Maha suci Allah Penguasa semesta alam, tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana”.
Orang tadi berkata: “Wahai Rasulullah, itu semuanya ditujukan kepada Tuhanku, mana yang ditujukan untuk diriku sendiri? Rasulullah menjawab: ”Katakanlah; Ya Allah ampunilah aku, berilah aku rahmat dan berilah aku petunjuk serta berilah aku rizki”. (HR. Muslim).
Rasulullah r juga bersabda:
(( الْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ : سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ ))
“Al Baqiyyaatush shaalihaat adalah: “Subhaanallah, wal hamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wa Allahu Akbar, wa laa haula walaa quwwata illa billah (Maha Suci Allah, segala puji hanya milik Allah, tiada sesembahan yang haq kecuali Allah, dan Allah Maha Besar, tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah)”. (HR. An Nasa’i dan hadits shahih menurut Ibnu Hibban dari Abi Sa’id Al Khudri).
Rasulullah r bersabda:
(( مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ عَمَلاً أَنْجَا لَهُ مِنْ عَذَابِ اللهِ مِنْ ذِكْرِ اللهِ))
“Tidak ada amalan anak cucu Adam yang lebih menyelamatkan dari siksaan Allah kecuali dzikir kepada Allah”. (HR Ibnu Abi Syaibah dan Ath Thabrani dengan sanad hasan dari Mu’adz bin Jabal t).
Mu’adz bin Jabal t berkata:
(( قَالَ رَسُوْلُ اللهِ r: أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ وَأَرْفَعُهَا فِيْ دَرَجَاتِكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوْا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ، قَالُوْا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ, قَالَ: ذِكْرُ اللهِ ))
“Bersabda Rasulullah r: “Maukah aku tunjukkan kepadamu sebaik-baik amal dan yang paling mulia di sisi Tuhanmu serta yang paling dapat meninggikan derajatmu, lebih baik dari emas dan perak yang engkau infakkan, dan lebih baik dari engkau berhadapan dengan musuh-musuhmu sampai engkau menebas batang leher mereka dan merekapun menebas batang lehermu? Para sahabat menjawab: “Tentu wahai Rasulullah”. Rasulullah r bersabda: “Berdzikir kepada Allah”. (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih).
Rasulullah r bersabda:
(( لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ U إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ ))
“Tidaklah duduk suatu kaum untuk dzikir kepada Allah U kecuali para malaikat mengelilingi mereka, diliputi oleh rahmat, dan hadir kepada mereka ketenangan dan Allah U menyebut–nyebutnya kepada siapa saja yang ada di sisi-Nya”. (HR. Muslim dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id).
Beliau r juga bersabda:
(( مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، عَشْراً، كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ رَقَبَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ ))
"Barang siapa yang mengucapkan:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
"Tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya saja segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. [sepuluh kali], Adalah seperti memerdekakan budak dari putera Nabi Isma’il u". (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Ayyub).
Dalam hadits riwayat Bukhari dan muslim dari Abu Hurairah t, bahwasanya Rasulullah r bersabda:
(( مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، فِيْ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلُ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزٌ مِنْ شَيْطَانِ يَوْمِهِ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ رَجَلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ، وَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ فِيْ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ ))

“Siapa yang mengucapkan:
لا إِلَهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Tiada Ilah yang berhak di sembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya seluruh kekuasaan dan segala pujian, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu", dalam satu hari seratus kali, maka baginya sama seperti orang yang memerdekakan sepuluh hamba sahaya dan akan ditulis baginya seratus kebaikan dan dihapus darinya seratus dosa. Baginya penjagaan dari gangguan syetan pada hari tersebut sampai datang malam. Tidak ada orang yang datang membawa suatu amal yang lebih baik darinya, kecuali orang yang mengamalkannya lebih banyak dari pada itu".
Siapa yang mengucapkan:
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
"Maha Suci Allah dengan segala pujian-Nya", dalam satu hari seratus kali maka akan dihapus dosa-dosanya walaupun dosa itu seperti buih di lautan”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Terdapat juga dalam shahihain dari Rasulullah r, beliau bersabda:
((كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلىَ الرَّحْمَانِ ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ العَظِيْمِ))
“Ada dua kalimat yang ringan diucapkan dengan lisan, disukai oleh Ar Rahman (Allah) dan berat pada timbangan yaitu:
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ العَظِيْمِ
“Maha Suci Allah dan dengan segala pujian-Nya, Maha Suci Allah lagi Maha Agung”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Imam Tirmidzi dan lainnya meriwayatkan dengan sanad hasan dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah r bersabda:
(( مَا قَعَدَ قَوْمٌ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيْهِ U وَلَمْ يُصَلُّوْا عَلىَ النَّبِيِّ r إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةٌ فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ فَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ ))
"Tidak duduk satu kaum di suatu tempat mereka tidak berdzikir kepada Allah U dan bershalawat atas Nabi Muhammad r kecuali mereka akan mendapat kehancuran. Bila Allah menghendaki maka akan menyiksanya dan bila Dia menghendaki maka akan mengampuninya”. (HR. Tirmidzi).
Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata:
(( كَانَ النَّبِيُّ r يَذْكُرُ اللهَ عَلىَ كُلِّ أَحْيَانِهِ ))
“Adalah Rasulullah r senantiasa berdzikir kepada Allah U pada setiap saat”. (HR. Muslim).
Demikian diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah t bahwasanya Rasulullah r bersabda:
(( مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ, وَمَنْ أَبْطَأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ ))
“Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam satu rumah dari rumah-rumah Allah, untuk membaca kitab Allah dan saling mengkajinya di antara mereka, melainkan akan turun atas mereka ketenangan dan mereka diliputi oleh rahmat, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah menyebut-nyebut kepada siapa yang ada di sisi-Nya, dan siapa yang berlambat amalnya, maka tidak bisa dipercepat oleh nasabnya”. (HR. Muslim dalam kitab shahihnya).
Dalam shahihain dengan lafadz Muslim dari Abu Bakar t bahwasanya dia berkata:
(( يَا رَسُولَ اللهِ! عَلِّمْنِيْ دُعَاءً أَدْعُوْ بِهِ فِيْ صَلاَتِيْ وَفِيْ بَيْتِيْ. قَالَ رَسُولُ اللهِ: قُلْ اللَهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيْرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُورُ الرَّحِيْم ))
“Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku do’a agar aku berdo’a dengannya dalam shalatku dan di rumahku! Rasulullah menjawab: “Katakanlah:
اللَهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيْرًا وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُورُ الرَّحِيْم
“Sesungguhnya aku telah banyak mendzalimi diriku sendiri, tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa itu kecuali Engkau, oleh karena itu ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan limpahkan kepadaku rahmat-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Pengasih”.
Dari Nu’man bin Basyir t dari Nabi Muhammad r bersabda:
(( الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ ))
“Do’a itu adalah ibadah. (HR. empat Ashhabus sunan dengan sanad yang shahih).
Dari Ibnu Umar t ia berkata: “Rasulullah r sering berdo’a:
(( اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ ))
“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, dari berubahnya afiat-Mu, dari bencana yang datang tiba-tiba dan dari semua kemurkaan-Mu". (HR. Muslim dalam kitab shahihnya).
Diriwayatkan dari Ibnu Umar t, bahwa Rasulullah r selalu berdo’a:
((اللَّهُمَّ إِنّيِ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ العَدُوِّ وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاء))
“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari tekanan hutang, tekanan musuh, dan kegirangan musuh-musuh atas bencana yang menimpaku”. (HR. Nasa'i dan hadits shahih dari Al Hakim).
Dari Buraidah t ia berkata: “ bahwa Nabi r berdo’a:
(( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الذِّي لمَْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ r: لَقَدْ سَأَلَ اللهَ بِاسْمِهِ الَّذِيْ إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ ))
“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu bahwa aku bersaksi sesungguhnya Engkaulah Allah, tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Engkau yang Maha Esa, Dzat yang bergantung kepada-Nya semua makhluq, yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak ada satupun sekutu bagi-Mu”. Maka Rasulullah bersabda: “Dia telah meminta kepada Allah dengan menyebut nama-Nya, yang bila ia diminta selalu memberi dan bila dimohon selalu mengabulkan”. (Diriwayatkan oleh empat penyusun kitab sunan dan hadits ini dari shahih Ibnu Hibban).
Dari Abu Hurairah t ia berkata bahwa Rasulullah r bersabda:
(( اللَّهُمَّ اغْفِرْ ليِ خَطِيْئَتِي وَجَهْلِي وَإِسْرَافيِ فِي أَمْرِي وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي ، اللَّهُمَّ اغِفِرْ ليِ جِدِّي وَهَزْليِ وَخَطَئِي وَعَمْدِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي، اللَّهُمَّ اغْفِرْ ليِ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ المُقَدِّمُ وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر ))
“Ya Allah, ampunilah aku dari kesalahanku, kebodohanku, dan berlebih-lebihan dalam urusanku yang Engkau lebih tahu dariku, Ya Allah Ampunilah kesungguhanku, senda gurauku, kekeliruanku, kesengajaanku, yang semuanya itu ada padaku. Ya Allah ampunilah aku dari apa yang aku dahulukan, yang aku akhirkan, yang aku rahasiakan, dan yang aku beberkan yang Engkau lebih tahu dariku, Engkaulah Dzat Yang Mendahulukan, dan Engkaulah Dazat Yang mengakhirkan, dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Hadits Muttafaq alaih).
Dari Anas t ia berkata: “ Bahwa Rasulullah r selalu berdo’a dengan do’a di bawah ini:
(( اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي وَارْزُقْنِي عِلْمًا يَنْفَعُنِي ))
“Ya Allah berilah manfaat bagiku dengan apa yang Engkau ajarkan kepadaku, ajarkanlah kepadaku apa yang bermanfaat bagiku dan berilah aku ilmu yang bermanfaat bagiku”. (HR. Nasa'i dan Hakim).
Dari Abu Hurairah t ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah r bersabda:
(( وَاللهِ إِنِّيْ َلأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً ))
“Demi Allah, aku beristighfar (mohon ampunan) kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya setiap hari lebih dari tujuh puluh kali. (HR. Bukhari).
Dari Ibnu Umar t ia berkata: “Kami menghitung dalam satu majlis, Rasulullah r membaca do'a sampai seratus kali, yaitu:
(( رَبِّ اغْفِرْ ليِ وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الغَفُوْر ))
“Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Pengampun”. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan ia berkata: Hadits hasan shahih).
Dari Syaddad bin Aus t dari Nabi Muhammad r beliau bersabda: “Sayyidul (penghulu) Istighfar adalah:
(( اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ ليِ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ ))
“Ya Allah Engkaulah Tuhanku, tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Engkau, Engkaulah yang telah menciptakan aku, dan aku adalah hamba-Mu, aku ada dalam perjanjian-Mu dan janji-Mu, dengan segenap kemampuanku, aku berlindung diri kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat, aku mengakui kepada-Mu Akan nikmat-Mu yang Kau berikan kepadaku, dan aku mengakui akan dosaku, maka ampunilah aku sebab sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau”. (HR. Bukhari dalam kitab shahihnya).
Banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits yang sudah dikenal yang menjelaskan tentang keutamaan dzikir, do’a dan istighfar.
Maka himpunan do’a dan dzikir yang Allah U telah mudahkan yang terdapat dalam riwayat shahih dari Nabi r, yang disyari’atkan baik sesudah shalat lima waktu, pada waktu pagi maupun petang hari, waktu hendak tidur atau bangun tidur, disaat masuk atau keluar rumah, saat masuk atau keluar masjid ketika bepergian maupun kembali, saya beri judul:
( تُحْفَةُ اْلأَخْيَارِ بِبَيَانِ جُمْلَةٍ نَافِعَةٍ مِمَّا وَرَدَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ الصَّحِيْحَةِ مِنَ اْلأَدْعِيَّةِ وَاْلأَذْكَارِ )
“Kumpulan do’a dan dzikir pilihan yang bermanfaat, bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih”
Sebagai ringkasan dari riwayat yang shahih dari Nabi r tanpa tambahan yang lain. Dengan harapan semoga dapat menjadi bekal dan penolong bagi seorang muslim dengan kehendak Allah U dalam berbagai kesempatan yang telah disebutkan. Disertai dengan hadits-hadits tentang keutamaan dzikir dan do’a.
Aku nasihatkan kepada setiap muslim dan muslimah agar mempergunakan do’a dan dzikir ini di setiap waktu sebagai pengamalan ayat-ayat dan hadits-hadits di atas. Kepada Allah U juga aku memohon agar dapatlah kiranya hal ini memberikan manfaat bagiku dan bagi segenap kaum muslimin. Allah-lah yang Maha Benar dan Maha Mulia, semoga shalawat serta salam selalu terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad r beserta keluarganya dan para sahabatnya.

DO’A DAN DZIKIR
SETELAH SHALAT FARDHU

Telah menjadi kebiasaan Rasulullah r setelah mengucapkan salam pada setiap shalat fardhu beliau beristighfar tiga kali, kemudian mengucapkan:
(( اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الجَلاَلِ وَالإِكْرَام لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللهمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الجدُّ مِنْكَ الجَدِّ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الحَسَنُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ ))
“Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Pemberi Sejahtera, dan dari-Mu kesejahteraan, Engkau Pemberi barakah, wahai pemilik Keagungan dan Kemuliaan. Tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah, yang Esa tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kekuasaan dan segala pujian, dan Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Ya Allah tiada seorangpun yang mampu menghalangi terhadap pemberian-Mu dan tidak ada pula yang dapat memberi sesuatu yang Engkau halangi, dan tidak ada manfaat kekayaan seseorang dari siksa-Mu, tidak ada upaya dan kekuatan kecuali dari Allah, tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah, dan tidaklah kami beribadah kecuali kepada-Nya, hanya milik-Nya kenikmatan, keutamaan dan sanjungan yang baik. Tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah dengan rasa ikhlas kami beribadah kepada-Nya walaupun orang-orang kafir benci”.
Kemudian membaca tasbih, tahmid dan takbir masing-masing 33 kali:
Maha suci Allah:سُبْحَانَ اللهِ
Segala puji bagi Allah: الْحَمْدُ ِللهِ
Allah Maha Besar: اللهُ أَكْبَرُ
Kemudian digenapkan yang keseratusnya dengan ucapan:
(( لا إِلَهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ))
“Tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kekuasaan dan segala pujian dan Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa”
Dilanjutkan dengan membaca ayat kursi:
ª!$#â Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ‘ysø9$# ãPq•‹s)ø9$# 4 Ÿw ¼çnä‹è{ù's? ×puZÅ™ Ÿwur ×PöqtR 4 ¼çm©9 $tB ’Îû ÏN¨uq»yJ¡¡9$# $tBur ’Îû ÇÚö‘F{$# 3 `tB #sŒ “Ï%©!$# ßìxÿô±o„ ÿ¼çny‰YÏã žwÎ) ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ 4 ãNn=÷ètƒ $tB šú÷üt/ óOÎgƒÏ‰÷ƒr& $tBur öNßgxÿù=yz ( Ÿwur tbqäÜŠÅsム&äóÓy´Î/ ô`ÏiB ÿ¾ÏmÏJù=Ïã žwÎ) $yJÎ/ uä!$x© 4 yìÅ™ur çm•‹Å™öä. ÏN¨uq»yJ¡¡9$# uÚö‘F{$#ur ( Ÿwur ¼çnߊqä«tƒ $uKßgÝàøÿÏm 4 uqèdur ’Ì?yèø9$# ÞáOŠÏàyèø9$#
“Allah tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Dia Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya) tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa idzin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang di kehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Agung”. (QS. Al Baqarah: 255).
Kemudian membaca surat Al-ikhlas:
ijk
â ö@è% uqèd ª!$# î‰xmr& ÇÊÈ ª!$# ߉yJ¢Á9$# ÇËÈ öNs9 ô$Í#tƒ öNs9ur ô‰s9qムÇÌÈ öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! #³qàÿà2 7‰xmr& á
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang".
“Katakanlah: “Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah adalah Ilah Yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dan tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia".




Kemudian membaca surat Al Falaq:
ijk
â ö@è% èŒqããr& Éb>uÎ/ È,n=xÿø9$# ÇÊÈ `ÏB ÎhŽŸ° $tB t,n=yz ÇËÈ `ÏBur ÎhŽŸ° @,Å™%yñ #sŒÎ) =s%ur ÇÌÈ `ÏBur Íhx© ÏM»sV»¤ÿ¨Z9$# ’Îû ωs)ãèø9$# ÇÍÈ `ÏBur Íhx© >‰Å™%tn #sŒÎ) y‰¡xm á
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang".
“Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya dan dari kejahatan malam apabila telah datang gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus buhul-buhul. Dan hari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki".
Lalu membaca surat An-Nas:
ijk
â ö@è% èŒqããr& Éb>uÎ/ Ĩ$¨Y9$# ÇÊÈ Å7Ï=tB Ĩ$¨Y9$# ÇËÈ Ïm»s9Î) Ĩ$¨Y9$# ÇÌÈ `ÏB Íhx© Ĩ#uqó™uqø9$# Ĩ$¨Ysƒù:$# ÇÍÈ “Ï%©!$# â¨Èqó™uqム’Îû Í‘r߉߹ Ĩ$¨Y9$# ÇÎÈ z`ÏB Ïp¨YÅfø9$# Ĩ$¨Y9$#ur á
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang".
"Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Rajanya manusia, Sesembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia dari jin dan manusia”.
Dan disunnahkan mengulang sampai tiga kali untuk tiga surat yang terakhir, khusus setelah shalat subuh dan shalat maghrib. Hal ini berdasarkan hadits shahih dari Nabi r.
Di samping itu, sesuai dengan sunnah Nabi r pada setiap selesai shalat maghrib dan subuh, juga disunnahkan membaca dzikir di bawah ini 10 kali:
(( لا إِلَهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ))
“Tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya kekuasaan dan segala pujian. Ia yang menghidupkan dan yang mematikan dan Dia berkuasa atas segala sesuatu”. (HR. Muslim).
Apabila ia seorang imam, sesudah mengucapkan istighfar tiga kali, dan mengucapkan: “Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarakta ya dzal jalali wal ikram” disunnahkan mengubah posisi duduk menghadap kepada jama'ah. Setelah itu barulah ia melanjutkan dzikir sesuai dengan yang dijelaskan di atas. Ini sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits-hadits yang cukup banyak dari Aisyah radhiallahu 'anha dalam riwayat Muslim. Semua do’a dan dzikir tersebut hukumnya sunnah bukan wajib.

DZIKIR DI WAKTU PAGI DAN PETANG

Diriwayatkan dari Abu Hurairah t dari Nabi Muhammad r, beliau bersabda:
(( مَنْ قَالَ حِيْنَ يُصْبِحُ وَحِيْنَ يُمْسِيْ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، مِائَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ ))
“Barang siapa mengucapkan di waktu pagi dan petang: "Subhanallah wa bihamdih"; seratus kali tidak ada seorangpun di hari kiamat yang datang membawa suatu kebaikan yang lebih baik darinya, kecuali orang yang mengucapkan hal yang sama atau lebih dari itu". (HR. Muslim).
Ibnu Mas’ud t berkata: bahwa Nabi r tatkala datang waktu petang selalu mengucapkan:
(( أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ الليلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا. رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الكَسَلِ وَسُوْءِ الكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابِ القَبْرِ )) وإذا أصبح قال ذلك أيضا، ((أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ ))
“Kami Telah sampai pada waktu petang dan kerajaan semesta milik Allah dan segala pujian hanya milik-Nya, tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya kekuasaan dan Milik-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Ya Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan yang ada pada malam ini, dan kebaikan sesudahnya, dan aku mohon perlindungan dari segala keburukan yang ada pada malam ini dan sesudahnya, Ya Rabb, aku mohon perlindungan kepada-Mu dari sifat malas dan kesombongan, ya Rabb, aku mohon perlindungan dari siksaan api neraka dan siksaan dalam kubur”.
Dan di waktu pagi Rasulullah r mengucapkan pula: "Kami telah sampai pada waktu pagi, dan kerajaan semesta milik Allah …dan seterusnya. (HR. Muslim).
Dari Syaddad bin Aus t dari Nabi Muhammad r beliau bersabda: “Sayyidul (penghulu) Istighfar adalah:
(( اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ ليِ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ ))
“Ya Allah Engkaulah Tuhanku, tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Engkau, Engkaulah yang telah menciptakan aku, dan aku adalah hamba-Mu, aku ada dalam perjanjian-Mu dan janji-Mu, dengan segenap kemampuanku, aku berlindung diri kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat, aku mengakui kepada-Mu Akan nikmat-Mu yang Kau berikan kepadaku, dan aku mengakui akan dosaku, maka ampunilah aku sebab sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau”.
Rasulullah r bersabda: “Siapa saja yang mengucapkannya di waktu siangnya dengan penuh keyakinan kemudian dia mati sebelum datangnya sore maka dia termasuk ahli surga, dan siapa yang mengucapkannya di waktu malam dengan penuh keyakinan kemudian dia mati sebelum datangnya pagi maka ia termasuk ahli surga”. (HR. Bukhari).
Abdullah bin Habib t berkata:
خَرَجْنَا فِيْ لَيْلَةِ مَطَرٍ وَظُلْمَةٍ شَدِيْدَةٍ نَطْلُبُ النَّبِيَّ r لِيُصَلِّيَ لَنَا فَأَدْرَكْنَاهُ فَقَالَ: (( قُلْ، فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا، ثُمَّ قَالَ: قُلْ، فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا، ثُمَّ قَالَ: قُلْ، فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ مَا أَقُوْلُ؟ قَالَ: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِيْنَ تُمْسِيْ وَحِيْنَ تُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ ))
“Aku keluar pada suatu malam yang lagi turun hujan dan gelap gulita untuk menemui Nabi r agar mengimami kami dalam shalat. Maka kami menjumpai beliau, dan beliau bersabda: “Katakanlah; namun aku tidak mengatakan sesuatu. Kemudian beliau bersabda pula: “Katakanlah, dan akupun tidak mengatakan sesuatu. Rasulullah berkata pula: “Katakanlah, kemudian aku berkata: "Apa yang mesti aku katakan wahai Rasulullah?", Rasulullah r bersabda: ”Katakanlah: “Qul Huwallahu Ahad dan dua surat perlindungan (Al Falaq dan An Naas) ketika datang waktu sore dan waktu pagi masing-masing tiga kali, maka cukup bagimu dari segala sesuatu". (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa'i dengan sanad hasan).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah t dari Nabi Muhammad r bahwasanya beliau mengajar sahabat-sahabatnya dengan berkata: "Apabila datang waktu subuh (pagi) atas seseorang maka hendaknya ia mengucapkan":
(( اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْر ))
“Ya Allah, Dengan-Mu kami menjumpai pagi dan dengan Engkau kami mendapatkan sore, dengan Engkau kami hidup dan dengan Engkau kami mati, dan kepada-Mu kami digiring”.
Apabila datang waktu sore maka katakanlah:
(( اللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ ))
“Ya, Allah dengan Engkau kami berada di waktu sore dan dengan Engkau kami berada di waktu pagi, dengan Engkau kami hidup dan dengan Engkau kami mati dan kepada-Mu tempat kembali”. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah, hadits ini shahih).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah t bahwa Abu Bakar As-Shiddiq t memohon kepada Rasulullah r seraya berkata: “Wahai Rasulullah, perintahkan kepadaku untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang akan aku ucapkan setiap pagi dan petang hari". Rasulullah r bersabda: "Katakanlah":
(( اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وشِرْكِهِ وأن أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ ))
“Ya, Allah Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang tampak, Pemelihara segala sesuatu dan Rajanya, aku bersaksi tidak ada Ilah yang hak disembah melainkan Engkau, aku berlindung dari kejelekan diri dan kejahatan setan dan sekutunya, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat keburukan atas diriku dan aku berlindung dari menarik kejelekan kepada seorang muslim”.
"Ucapkanlah (do’a ini) tatkala pagi dan sore hari, dan ketika engkau akan tidur". (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i, dan Bukhari dalam Adabul Mufrad dengan sanad shahih). Lafadz ini menurut riwayat Ahmad dan Bukhari.
Diriwayatkan dari Utsman bin Affan t ia berkata: bahwasanya Rasulullah r bersabda: “Tidak akan ada sesuatu yang membahayakan bagi seorang hamba yang mengucapkan pada waktu pagi setiap hari dan waktu sore pada setiap malam dengan diulang-ulang tiga kali sebuah do'a:
(( بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ))
“Dengan nama Allah yang tidak ada bahaya atas nama-Nya sesuatu di bumi dan tidak pula di langit dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah, Tirmidzi mengatakan hadits hasan shahih).
Diriwayatkan dari Tsauban pembantu Nabi Muhammad r, bahwa beliau r pernah bersabda: "Tidak ada balasan bagi seorang hamba muslim yang mengucapkan bacaan ini, tatkala datang waktu pagi dan waktu sore tiga kali:
(( رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ r نَبِيًّا ))
“Aku rela Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad r sebagai Nabi”, kecuali Allah akan meridhainya di hari kiamat". (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dengan sanad hasan).
Redaksi ini berdasarkan riwayat dari Ahmad, tetapi tidak menyebutkan bahwa hadits ini dari Tsauban. Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan dari Tsauban. Imam Nasa'i meriwayatkan hal ini dalam bab; “Amalan siang dan malam hari”, sama seperti riwayat Imam Ahmad.
Dalam shahih Muslim dari Abi Sa’id Al Khudri t, bahwa Nabi r bersabda:
(( مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ r نَبِيًّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ))
“Siapa saja yang rela Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad r sebagai Nabi, maka berhak baginya surga”. (HR. Muslim).
Imam Muslim juga meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Abbas bin Abdul Muthalib t, bahwa Nabi r bersabda:
(( ذَاقَ طَعْمَ الإِيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ r رَسُوْلاً ))
“Akan merasakan rasa (lezatnya) iman orang yang rela menjadikan Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul”.
Diriwayatkan dari Anas t, bahwa Nabi r bersabda: “Siapa saja yang di waktu pagi atau sore hari membaca:
(( اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلائِكَتَكَ وَجَمِيْعَ خَلْقِكَ بِأَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ ))
“Ya Allah, aku berada di waktu subuh, aku bersaksi kepada-Mu dan bersaksi kepada pembawa ‘Arsy-Mu dan malaikat-Mu serta seluruh makhluk-Mu bahwa Engkaulah Allah, tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Engkau semata, tidak ada sekutu bagi-Mu dan Muhammad itu adalah hamba-Mu dan Rasul-Mu".
Maka Allah akan membebaskan seperempatnya dari api neraka, siapa saja yang mengucapkannya dua kali, maka Allah akan membebaskannya separuh dari api neraka, siapa saja yang mengucapkannya tiga kali, maka Allah akan membebaskannya tiga perempat dari api neraka dan siapa yang membacanya empat kali maka Allah akan membebaskannya penuh dari api neraka”. (HR. Abu Dawud dengan sanad hasan).
Dalam redaksi yang lain, diriwayatkan oleh Abu Dawud dikatakan:
(( اللَّهُمَّ إِنِّيْ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلائِكَتَكَ وَجَمِيْعَ خَلْقِكَ بِأَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ ))
“Ya Allah, aku bersaksi kepada-Mu dan bersaksi atas pambawa Arsy-Mu dan para Malaikat-Mu serta seluruh makhluk-Mu, bahwa Engkaulah Allah, tidak ada Ilah yang hak disembah melainkan Engkau semata, tidak ada sekutu bagi-Mu dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan Rasul-Mu”.
Maka Allah akan membebaskannya pada hari itu seperempat dari api neraka, dan siapa yang mengucapkan empat kali maka Allah akan membebaskannya penuh di hari itu dari api neraka”. (HR. Abu Daud).
Diriwayatkan dari Abdullah bin Ghanim t bahwa Rasulullah r bersabda: “Barang siapa yang mengucapkan:
(( اللَّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِي مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُكْرُ ))
“Ya Allah, tidaklah di pagi hari adanya kenikmatan untukku atau untuk seseorang dari makhluk-Mu melainkan itu hanya dari-Mu semata, tidak ada sekutu bagi-Mu, bagi-Mu segala pujian dan syukur”.
Maka berarti orang itu telah bersyukur pada hari itu. Siapa saja yang mengucapkan hal itu di sore hari, maka orang itu telah bersyukur untuk malamnya".(HR. Abu Dawud, Nasa'i dalam bab: “Amalan siang dan malam hari”, dengan sanad hasan).
Ini sesuai dengan redaksi hadits yang diriwayatkan oleh Nasa'i, akan tetapi tidak menyebutkan lafadz “Di waktu sore”. Ibnu Hibban meriwayatkan sama seperti lafadz riwayat Nasa'i dari Ibnu Abbas t.
Abdullah bin Umar t berkata: “Tidak pernah Rasulullah r meninggalkan do’a ini, baik di waktu sore atau pagi hari:
(( اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَافِيةَ فيِ الدُّنْيَا وَالآخرةِ, اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فيِ دِيْنيِ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتيِ وَآمِنْ رَوْعَاتيِ، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمَنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِيْنِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي ))
“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu afiat di dunia dan akhirat, Ya Allah, aku mohon ampunan dan afiat dalam urusan agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aibku dan berilah aku keamanan dari segala rasa takut. Ya Allah jagalah aku dari arah depanku, di belakangku, dari kanan dan kiriku serta di atasku. Akau berlindung dengan keagungan-Mu dari dibenamkan kedalam bumi". (HR. Ahmad dalam kitab Al Musnad, Abu Dawud, Nasa'i, Ibnu Majah dan merupakan hadits shahih menurut riwayat Hakim).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah t, bahwa Rasulullah r pernah bersabda:“Barang siapa yang mengucapkan:
(( لا إِلَهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ))
“Tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kekuasaan dan segala pujian dan Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa”.
Siapa saja yang mengucapkannya sepuluh kali di waktu pagi, maka Allah akan tuliskan baginya seratus kebaikan dan Allah hapus darinya seratus kejelekan. Kedudukannya seperti orang yang membebaskan hamba sahaya dan Allah menjaganya pada hari itu sampai datangnya sore hari. Dan siapa saja yang mengucapkan seperti demikian di waktu sore maka baginya demikian pula”. (HR. Ahmad dalam Musnadnya dengan sanad hasan).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah t, bahwa Nabi Muhammad r pernah bersabda: “Siapa saja yang mengucapkan pada sore hari tiga kali bacaan ini :
(( أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ ))
“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhuk-Nya”,
Maka tidak akan membahayakan “Al Hummah” pada malam itu”. (HR. Ahmad dan Tirmidzi dengan sanad hasan).
Al Hummah adalah binatang yang berbisa seperti kala, ular, dan sebagainya.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam kitab shahihnya dari Khaulah binti Hukaim radhiallahu 'anha dari Nabi r beliau bersabda: “Siapa yang singgah ke suatu tempat kemudian mengucapkan:
(( أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ ))
“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhuk-Nya”.
Tidak akan membahayakan sesuatupun sampai orang itu meninggalkan tempat persinggahan itu". (HR. Muslim).
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abdurahman bin Abazi dari bapaknya t, bahwa Nabi r selalu mengucapkan setiap datangnya pagi dan sore:
(( أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ r وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ))
“Kami berada di pagi hari, berada dalam fitrah Islam dan kalimat ikhlas dan dien Nabi kami Muhammad r dan dalam ajaran bapak kami Ibrahim yang lurus dalam menjalankan agama dan tidaklah Ibrahim itu termasuk orang-orang yang musyrik”. (HR. Ahmad, dengan sanad yang shahih).
Diriwayatkan dari Abdur Rahman bin Abi Bakrah t dia berkata kepada bapaknya:
يَا أَبَتِ إِنِّيْ أَسْمَعُكَ تَدْعُوْ كُلَّ غَدَاةٍ: (( اللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ )) تُعِيْدُهَا ثَلاَثًا حِيْنَ تُصْبِحُ وَثَلاَثًا حِيْنَ تُمْسِيْ. وَتَقُوْلُ: (( اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ )) تُعِيْدُهَا حِيْنَ تُصْبِحُ ثَلاَثًا وَحِيْنَ تُمْسِيْ ثَلاَثًا. قَالَ: نَعَمْ يَا بُنَيَّ إِنِّيْ سَمِعْتُ النَّبِيَّ r يَدْعُوْ بِهِنَّ فَأُحِبُّ أَنْ أَسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ.
“Wahai ayahku, aku selalu mendengar engkau berdo’a setiap pagi:
(( اللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ))
"Ya Allah berikanlah kesehatan pada badanku. Ya Allah berilah kesehatan dalam pendengaranku, ya Allah berilah kesehatan pada penglihatanku, tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Engkau”.
Abdur Rahman bin Abi Bakrah t berkata kepada ayahnya: "Dan aku mendengar engkau membacanya tiga kali di waktu pagi dan tiga kali di petang hari".selalu mengulangi do’a ini tiga kali di waktu pagi dan tiga kali di waktu sore".
"Dan engkaupun berdo’a":
(( اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ))
"Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Engkau".
Abdur Rahman bin Abi Bakrah t berkata kepada ayahnya: "Dan inipun engkau ulangi setiap pagi tiga kali dan setiap sore tiga kali”.
Abu Bakrah t menjawab: “Benar Wahai anakku karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah r selalu berdo’a demikian dan aku suka membiasakan diri dengan sunnah Rasul“. (HR. Ahmad, Bukhari, Abu Dawud dan Nasa'i).
Disyari'atkan bagi setiap muslim dan muslimah agar setiap pagi mengucapkan seratus kali bacaan:
(( لا إِلَهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ))
“Tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kekuasaan dan segala pujian dan Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa”.
Maka dia akan terjaga dari gangguan syaitan pada hari itu sampai datangnya sore".
Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah t bahwa Nabi r berdo’a:
(( لا إِلَهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ))
“Tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kekuasaan dan segala pujian dan Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa”.
Dalam setiap hari seratus kali. Maka siapa yang membaca bacaan ini sama dengan memerdekakan sepuluh hamba sahaya dan ditulis baginya seratus kebaikan serta dihapus darinya seratus dosa dan dia akan dijaga dari gangguan syaitan pada hari itu sampai datangnya waktu sore. Dan tidak ada seorang pun yang datang dengan amal yang lebih baik dari pada itu kecuali seseorang yang mengamalkan lebih banyak lagi".
Nabi r melanjutkan sabdanya: "Siapa saja yang mengucapkan:
(( سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ ))
“Maha suci Allah dan segala pujian bagi-Nya",
Pada setiap hari seratus kali, maka akan dihapuskan dosa-dosanya walaupun dosa itu seperti buih di lautan".

DO’A
MASUK DAN KELUAR RUMAH

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ r يَقُوْلُ : (( إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللهَ U عِنْدَ دُخُوْلِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ, قَالَ الشَّيْطَانُ : لاَ مَبِيْتَ لَكُمْ وَلاَ عَشَاءَ، وَإذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرِ اللهَ U عِنْدَ دُخُوْلِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ : أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيْتَ، وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ : أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيْتَ وَالْعَشَاءَ ))
“Dari Jabir bin Abdullah t ia berkata: "Aku pernah mendengar Rasulullah r bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu masuk ke dalam rumah dan ketika makan dengan menyebut nama Allah, maka syaitan akan berkata: tidak ada tempat menginap bagimu dan tidak pula engkau dapat makan malam. Dan apabila ia masuk rumah tetapi tidak menyebut nama Allah, maka syaitan berkata: aku dapatkan darimu tempat menginap. Apabila tidak pula menyebut nama Allah tatkala makan, maka syaitan berkata: kalian dapatkan tempat menginap dan makan malam”. (HR. Muslim).
Diriwayatkan dari Abu Malik Al Asy’ari t ia berkata, bahwa Rasulullah r pernah bersabda: “Apabila seseorang masuk ke dalam rumahnya, maka hendaklah ia mengucapkan:
(( اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَ المَوْلِجِ وَخَيْرَ المَخْرَجِ، بِسْمِ اللهِ وَلَجْنَا وَبِسْمِ اللهِ خَرَجْنَا وَعَلَى اللهِ رَبَّنَا تَوَكَّلْنَا ))
“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu sebaik-baik tempat masuk dan sebaik-baik tempat keluar. Dengan menyebut nama Allah kami masuk dan dengan menyebut nama Allah kami keluar dan kepada Allah wahai Tuhan kami, kami berserah diri”.
Kemudian memberi salam kepada keluarga (yang ada di dalam rumah). (HR. Abu Dawud dengan sanad hasan).

DO’A
KELUAR RUMAH MENUJU MASJID DAN LAINNYA

Diriwayatkan dari Anas bin Malik t ia berkata, bahwa Rasulullah r pernah bersabda: "Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan mengucapkan:
(( بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ ))
“Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tiada upaya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah”
Maka dikatakan kepadanya saat itu:
(( كُفِيْتَ وَوُقِيْتَ وَهُدِيْتَ وَتُنْحَى عَنْهُ الشَّيْطَانُ. وَقَالَ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ ))
“Engkau telah tercukupi, telah terjaga dan mendapatkan petunjuk. Kemudian syaitan berpaling dan berkata kepada yang lain:”Bagaimana kamu dapat menggoda dia, sedangkan dia telah mendapatkan petunjuk, tercukupi dan terjaga?" (HR. Abu Dawud, Nasa'i, Tirmidzi dengan sanad hasan)
Ummu Salamah radhiallahu ‘anha berkata; Rasulullah r sama sekali tidak pernah keluar dari rumahnya kecuali selalu mengarahkan pandangannya ke langit dan mengucapkan:
(( اللَّهُمَّ ِإنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلُّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلُّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ ))
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat sesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, berbuat dzalim atau didzalimi, berbuat bodoh atau dibodohi”. (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Redaksi hadits di atas adalah menurut riwayat Abu Dawud dengan sanad yang shahih.

DO’A
MASUK DAN KELUAR MASJID

Diriwayatkan dari Abu Humaid atau Abu Usaid t ia berkata, bahwa Rasulullah r pernah bersabda: “Apabila kamu masuk ke dalam masjid, maka ucapkanlah:
(( اللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ ))
“Ya Allah bukakanlah untukku pintu rahmat-Mu”.
Dan apabila keluar dari masjid, maka ucapkanlah:
(( اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ))
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu sebagian dari keutamaan-Mu". (HR. Muslim dan Abu Dawud).
Redaksi hadits ini dari riwayat Abu Dawud.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar dan Ubay Al-‘Ash y bahwa Nabi r apabila masuk ke dalam masjid beliau mengucapkan:
(( أَعُوْذُ بِاللهِ الْعَظِيمِْ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ القَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ))
“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, kepada Wajah yang Mulia dan kekuasaan yang Terdahulu dari godaan syaitan yang terkutuk”.
Rasulullah r bersabda: “Apabila salah seorang mengucapkan yang demikian itu, maka syaitan akan mengatakan; "Orang itu dijaga dariku seluruh harinya". (HR. Abu Dawud dengan sanad hasan).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah t, bahwa Nabi r pernah bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu masuk ke dalam masjid, maka ucapkanlah salam atas Nabi r, kemudian ucapkanlah:
(( اللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ ))
“Ya Allah bukakanlah untukku pintu rahmat-Mu”.
"Dan apabila keluar dari masjid, maka ucapkanlah salam atas Nabi r dan ucapkanlah:
(( اللَّهُمَّ اعْصِمْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ))
“Ya Allah, lindungilah aku dari godaan syaitan yang terkutuk”. (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shahih).



DO’A DAN DZIKIR
KETIKA HENDAK ATAU BANGUN TIDUR

Diriwayatkan dari Hudzaifah t, ia berkata: bahwa Rasulullah r apabila hendak tidur di malam hari, beliau meletakkan tangannya di bawah pipi, kemudian mengucapkan:
(( اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوْتُ وَأَحْيَا ))
“Ya Allah, dengan menyebut namu-Mu akau mati dan aku hidup”.
Dan apabila bangun dari tidur beliau mengucapkan:
(( اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ ))
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nya kami kembali". (HR. Bukhari).
Hadits yang sama juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari melalui jalur Abi Dzar t. Imam Muslim meriwayatkan dari Al Barra bin Azib t, sama seperti hadits riwayat Hudzaifah tersebut.
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha diriwayatkan, "bahwa Nabi r apabila akan mulai tidur setiap malam, beliau merapatkan kedua telapak tangannya, kemudian meniupnya sambil membaca: "Qul Huwallahu Ahad, Qul ‘Audzu Birabbil Falaq dan Qul ‘Audzu Birabbin Naas', kemudian beliau mengusap dengan kedua tapak tangannya seluruh badannya, mulai dari atas kepala dan muka melalui bagian depan dari tubuhnya, tiga kali”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Al-Anshari t dari Nabi Muhammad t bersabda:
(( مَنْ قَرَأَ الآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِيْ لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ ))
“Siapa saja yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah, maka hal itu telah cukup baginya”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Diriwayatkan dari Al Barra bin ‘Azib t, ia berkata; bahwa Rasulullah r pernah bersabda: ”Apabila kamu mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhu'lah sebagaimana wudhu’mu untuk shalat kemudian rebahkanlah tubuhmu dengan posisi miring ke kanan dan bacalah:
(( اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ )) فَإِنْ مِتَّ فِي لَيْلَتِكَ مِتَّ عَلَى الْفِطْرَة
“Ya Allah aku serahkan diriku kepada-Mu dan aku hadapkan wajahku kepada-Mu dan aku serahkan urusanku kepada-Mu dan aku sandarkan punggungku karena-Mu dengan rasa cinta dan takut kepada-Mu, tiada tempat mengadu dan tiada tempat memohon melainkan kepada-Mu, aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan, dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus"
"Apabila engkau mati pada malam itu, maka engkau mati dalam keadaan fitrah (suci). Jadikanlah bacaan–bacaan ini sebagai akhir apa yang engkau ucapkan".(HR. Bukhari dan Muslim).
Dan dalam riwayat Muslim dengan redaksi: "Dan jadikanlah bacaan-bacaan itu sebagai akhir ucapanmu”.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah t, dari Nabi r apabila beliau berada di tempat tidur mengucapkan:
(( اللَّهُمَّ رَبَّ السَمَوَاتِ وَرَبَّ الأَرْضِ وَرَبَّ العَرْشِ العَظِيْمِ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ فَالِقَ الحَبِّ وَالنَّوَى وَمُنْـزِلَ التَّوْرَاةَ وَالإِنْجِيْلِ وَالفُرْقَانِ. أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ وَأَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَاَغْنِنَا مِنْ الفَقْرِ ))
“Ya Allah Tuhan seluruh langit, Tuhannya bumi dan Tuhan Arsy yang agung, wahai Tuhan kami dan Tuhannya segala sesuatu, yang menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji-bijian, yang menurunkan Taurat, Injil dan Furqan (Al Qur'an). Aku berlindung kepada-Mu dari segala mara bahaya dan Engkaulah yang mengendalikan bahaya itu. Ya Allah Engkaulah yang pertama, tidak ada sesuatupun yang mendahului-Mu dan Engkaulah yang terakhir yang tidak ada sesuatupun sesudah-Mu. Engkau adalah Dzat yang Dzahir yang tidak ada yang dzahir di atas-Mu, dan Engkaulah yang Tersembunyi yang tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Mu, Lunaskanlah hutang kami dan kayakanlah kami dari kefakiran". (HR. Muslim).
Diriwayatkan dari Hafshah Ummul Mu’minin radhiallahu ‘anha bahwa Nabi Muhammad r bila hendak tidur, beliau meletakkan telapak tangan kanannya di bawah pipi kanan kemudian mengucapkan:
(( اللَّهُمَّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ ))
“Ya Allah, jagalah aku dari azab-Mu pada hari Engkau bangkitkan hamba-hamba-Mu”. (HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad hasan).
Diriwayatkan dari Anas t bahwa Nabi r bila berada di tempat tidur beliau mengucapkan:
(( الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَأَوَانَا فَكَمْ مِمَّنْ لاَ كَافِي لَهُ وَلاَ مُؤْوِيَ ))
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan kami, memberi minum kami, dan mencukupi kami serta memberikan tempat tinggal bagi kami, betapa banyak orang yang tidak ada yang memberikan kepadanya kecukupan, dan tidak ada yang memberikan pengayoman”. (HR. Muslim).
Diriwayatkan dari Ibnu Umar t bahwasanya dia memerintahkan seseorang apabila akan tidur agar mengucapkan:
(( اللَّهُمَّ خَلَقْتَ نَفْسِيْ وَأَنْتَ تَتَوَفَّاهَا، لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا، إِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا، وَإِنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْ لَهَا. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ العَافِيَة ))
“Ya Allah Engkau ciptakan jiwaku dan Engkaulah yang mematikannya, untuk-Mu kematian dan kehidupannya. Apabila Engkau menghidupkannya maka jagalah ia dan apabila Engkau mematikannya maka ampunilah ia. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kesejahteraan".
Ibnu Umar berkata: “Aku mendengar do'a ini dari Rasulullah r”. (HR. Muslim).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r bersabda: "Apabila salah seorang di antara kamu akan tidur, maka hendaknya ia membalikkan sebelah dalam selimutnya dan ia kibaskan dengan kain itu tempat tidurnya kemudian sebutlah nama Allah U, sebab sesungguhnya dia tidak mengetahui apa yang ada dan yang akan terjadi di atas tempat tidurnya. Apabila kamu mulai berbaring, maka berbaringlah ke arah kanan dan ucapkanlah:
(( سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبِّي بِكَ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا. وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا مِمَّا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِين ))
“Maha Suci Engkau ya Allah Tuhanku, karena Engkau aku baringkan lambungku, dan karena Engkau pula aku angkat (bangun). Jika Engkau cabut jiwaku ini maka rahmatilah ia, dan jika Engkau kembalikan ia, maka jagalahlah ia sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shalih”. (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menurut lafadz Muslim.
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib t bahwa Fathimah radhiallahu 'anha pernah datang kepada Rasulullah r untuk meminta pembantu, tapi yang ia dapatkan ‘Aisyah radhiallahu 'anha, maka Fathimah memberitahukan kepadanya.
Ali t Berkata:”Kemudian Nabi r datang, sedangkan kami telah mulai berbaring. Nabi r bersabda: “Maukah aku tunjukkan kepada kamu berdua tentang sesuatu hal yang lebih baik bagi kamu berdua dari pada seorang pembantu? apabila kamu akan mulai tidurmu, maka bertasbihlah 33 kali dan bertahmid 33 kali serta bertakbir 34 kali. Maka sesungguhnya hal itu lebih baik bagi kamu berdua dari pada seorang pembantu”.
Ali t berkata: “Tidak pernah aku tinggalkan hal tersebut semenjak aku mendengarnya dari Rasulullah t". (HR. Bukhari dan Muslim).
Diriwayatkan dari Ubadah bin Ash Shamit t dari Nabi r bersabda: ”Siapa saja yang bangun dari tidurnya di tengah malam lalu ia mengucapkan:
(( لا إِلَهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ. لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. الْحَمْدُ للهِ وَسُبْحَانَ اللهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ ))
“Tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kekuasaan dan segala pujian dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah, Maha Suci Allah tidak ada Ilah yang patut disembah melainkan Allah dan tiada upaya dan kekuatan melainkan dari Allah”.
Kemudian mengucapkan pula:
(( اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ))
“Ya Allah, ampunilah dosaku.”
Atau berdo’a minta agar Allah U mengabulkan amalnya; maka apabila ia shalat akan diterima shalatnya". (HR. Bukhari).

DO’A
SEBELUM DAN SESUDAH MAKAN DAN MINUM

عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِيْ سَلَمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ r: (( يَا غُلاَمُ سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ ))
“Diriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah ia berkata: “Rasulullah r bersabda kepadaku: “Wahai anakku! sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang ada di dekatmu". (HR. Bukhari dan Muslim).
Aisyah radhiallahu 'anha berkata; bahwa Rasulullah r bersabda:
(( إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللهِ تَعَالَى فِيْ أَوَّلِهِ فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اللهَ تَعَالَى فِيْ أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ))
“Apabila salah seorang dari kamu makan, maka sebutlah nama Allah U pada permulaannya, namun bila ia lupa menyebut nama Allah U pada permulaannya, maka hendaknya ia mengucapkan: "Dengan menyebut nama Allah pada permulaan dan akhirnya”. (HR. Abu Dawud, Nasa'i dan Tirmidzi. Menurut Tirmidzi hadits ini hasan shahih sedangkan menurut Al Hakim; termasuk hadits shahih. Hal ini diakui oleh imam Dzahabi).
Anas bin Malik t berkata; bahwa Rasulullah r pernah bersabda:
(( إِنَّ اللهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدُهُ عَلَيْهَا أَوْ أَنْ يَشْرَبَ الشُّرْبَةَ فَيَحْمَدُهُ عَلَيْهَا ))
“Sesungguhnya Allah sangat ridha kepada seorang hamba yang makan satu suapan kemudian memuji-Nya dan minum satu teguk air, kemudian ia memuji-Nya”. (HR. Muslim).
Diriwayatkan dari Muadz bin Anas t ia berkata; bahwa Rasulullah r pernah bersabda: “Siapa saja yang makan suatu makanan kemudian mengucapkan:
(( اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلاَ قُوَّةٍ ))
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan kepadaku ini dan telah memberiku rezeki tersebut, tanpa usaha dan kekuatan dariku".
Orang itu akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad hasan).
Diriwayatkan dari Abu Umamah t; bahwa Rasulullah r apabila selesai makan beliau mengucapkan :
(( اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلاَ مُوَدَّعٍ وَلاَ مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا ))
“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, yang baik, lagi penuh berkah. Tidak ada memberi kecukupan, pemberi simpanan dan pemberi kekayaan atas makanan itu selain Engkau wahai Tuhan kami”. (HR. Bukhari).

DO’A DAN DZIKIR
KETIKA MELIHAT SUATU NEGERI ATAU KEMBALI DARI NEGERI YANG LAIN

Diriwayatkan dari Shuhaib t; bahwa Nabi r tidak melihat suatu negeri yang beliau inginkan untuk memasukinya kecuali selalu mengucapkan:
(( اللّهُمَّ رَبَّ السَمَوَاتِ السَبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ وَرَبَّ الأَرَاضِيْنَ السَبْعِ وَمَا أَقْلَلْنَ وَرَبَّ الشَيَاطِيْنِ وَمَا أَضْلَلْنَ وَرَبَّ الرِيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ, أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ القَرْيَةِ وَخَيْرَ أَهْلِهَا وَخَيْرَ مَا فِيْها, وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ أَهْلِهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا ))
“Ya Allah Tuhan tujuh langit dengan apa yang ada di dalamnya dan Tuhan tujuh bumi beserta seluruh isinya, Tuhannya syaitan dan apa yang mereka sesatkan, Tuhannya segala angin dan segala apa yang diterbangkannya. Aku memohon kepada-Mu kebaikan negeri ini dan kebaikan penduduknya serta yang ada di dalamnya dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan negeri ini dan kejahatan penduduknya serta segala yang ada di dalamnya". (HR. Nasa'i dengan sanad hasan).
Anas t berkata: "Kami pernah pulang bersama Nabi r, hingga ketika kami menjelang sampai di kota Madinah, Rasulullah r berdo’a:
(( آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابَدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ ))
“Kami orang-orang yang kembali, orang-orang yang bertaubat, dan orang yang beribadah kepada Tuhan kami dan kami termasuk orang-orang yang memuji-Nya".
Rasulullah r tidak henti-hentinya mengucapkan demikian sampai kami tiba di Madinah". (H.R; Muslim).

DO’A DAN DZIKIR
KETIKA ADZAN DAN SESUDAHNYA

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ r قَالَ: ((إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ ))
Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudry t, sesungguhnya Rasulullah r pernah bersabda: “Apabila kamu mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin". (HR. Bukhari dan Muslim).
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah t, bahwa Rasulullah r bersabda: “Siapa yang setelah mendengar adzan mengucapkan:
(( اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ ))
“Ya Allah, Tuhan yang memiliki panggilan yang sempurna ini, dan shalat yang didirikannya, berilah Muhammad kedudukan yang tinggi dan kemuliaan, serta bangkitkanlah dia di tempat yang terpuji, yang telah Engkau janjikan”.
Maka baginya syafa'atku pada hari kiamat". (HR. Bukhari).
Dalam riwayat Baihaqi pada akhir do’a tersebut ditambahkan:

(( إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ ))
“Sesungguhnya Engkau tidak pernah mengingkari janji”.
Sebenarnya tambahan ini adalah lemah, karena tambahan ini riwayatnya syadz (ganjil) lihat; Irawa'ul Ghalil: 1 : 260-261.
Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash t dari Rasulullah r, bahwasanya beliau bersabda: "Siapa yang setelah adzan mengucapkan:
(( أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً وَبِالإِسْلاَمِ دِيْنًا))
“Aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad itu hamba-Nya dan utusan-Nya. Aku rela menjadikan Allah sebagai Tuhan, Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agama”.
Maka Allah U akan mengampuni segala dosanya". (HR. Muslim).
Umar bin Khattab t pernah berkata; bahwa Rasulullah r pernah bersabda:
(( إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمْ: اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ، قَالَ: لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ، قَالَ: لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. ثُمَّ قَالَ: اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. ثُمَّ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، قَالَ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ))
“Apabila muadzin menyerukan: "Allahu Akbar, Allahu Akbar", maka seseorang dari kamu mengucapkan: "Allahu Akbar, Allahu Akbar". Ketika muadzin menyerukan: "Asyhadu Alla ilaaha Illallah", diapun mengucapkan: "Asyhadu Alla ilaaha Illallah". Ketika muadzin menyerukan: "Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah", maka diapun mengucapkan: "Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah". Ketika muadzin menyerukan: "Hayya ‘alash Shalaah", maka dia mengucapkan: "Laa Haula wala quwwata Illaa Billah". Ketika muadzin menyerukan: "Hayya ‘alal Falaah", maka dia mengucapkan: "Laa haula wala quwwata Illaa billah". Tatkala muadzin menyerukan: "Allahu Akbar, Allahu Akbar", diapun mengucapkan: "Allahu Akbar, Allahu Akbar". Tatkala muadzin menyerukan: "Laa Ilaaha Illallah", maka diapun mengucapkan: "La ilaaha illallah".
Dan jika hal ini dia ucapkan dari lubuk hatinya, maka orang itu akan masuk sorga”. (HR. Muslim).
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al ’Ash y bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah r bersabda:
(( إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ، ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا. ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ فَإِنَّهَا مَنْـزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِيْ إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأَرْجُوْ أَنْ أَكُوْنَ أَنَا هُوَ, فَمَنْ سَأَلَ اللهَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ ))
“Apabila kamu mendengar muadzin (menyerukan adzan), maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin, kemudian ucapkanlah shalawat atasku, karena sesungguhnya siapa yang mengucapkan shalawat atasku sekali, maka Allah U akan memberinya sepuluh rahmat. Kemudian mohonlah kepada Allah untukku Al Wasilah sesungguhnya Al Wasilah itu suatu tempat di sorga yang tidak diperuntukkan kecuali bagi seorang hamba dari hamba-hamba-Nya. Aku berharap agar semoga akulah hamba itu. Siapa yang mintakan untukku Al Wasilah, maka dia akan mendapatkan syafa'atku”. (HR. Muslim).

MEMBERI SALAM, MENJAWAB ORANG BERSIN DAN DO’A UNTUK ORANG SAKIT

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ r: أَيُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ؟, قَالَ: (( تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ ))
“Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al 'Ash y, ia menuturkan; pernah ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi r: “Ajaran Islam yang manakah yang paling baik?. Rasulullah r menjawab: ”Kamu memberi makan dan kamu mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal ataupun yang belum kamu kenal”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Abu Hurairah t berkata: “Rasulullah r pernah bersabda:
(( لاَ تَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوْا, وَلاَ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ))
“Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidak sempurna iman kalian sehingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu hal yang apabila kalian mengerjakannya, maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian". (HR. Muslim).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah t, bahwa Rasulullah r bersabda:
(( خَمْسٌ تَجِبُ لِلْمُسْلِمِ عَلَى أَخِيْهِ: رَدُّ السَّلاَمِ وَتَشْمِيْتُ الْعَاطِسِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيْضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ ))
“Lima hal yang diwajibkan terhadap seorang muslim kepada saudaranya sesama muslim; menjawab salam, mendo'akan orang yang bersin, memenuhi undangan, mengunjungi orang yang sakit dan mengikuti jenazah (sampai ke pemakamannya)". (HR. Bukhari dan Muslim).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah t dari Nabi r, beliau bersabda:
(( حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصُحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَشَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ ))
“Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam: Jika engkau bertemu dengannya, maka ucapkanlah salam kepadanya, apabila ia mengundangmu penuhilah undangan itu, apabila ia minta nasihat kepadamu maka nasihatilah dia, dan apabila di bersin dan mengucapkan "Al Hamdu lillah", maka ucapkanlah "Yarhamukallah", apabila ia sakit maka jenguklah dan apabila ia mati maka ikutilah (antarkanlah jenazahnya sampai ke kuburnya)". (HR. Muslim).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah t dari Nabi Muhammad r bersabda:
(( إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ. فَإِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَحَمِدَ اللهَ فَحَقَّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ، وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيْطَانِ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِذَا قَالَ: هَاءَ ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ ))
“Sesungguhnya Allah U cinta kepada bersin dan benci menguap. Apabila salah seorang di antara kamu bersin dan mengucapkan "Al Hamdulillah" maka menjadi hak atas setiap muslim yang mendengarnya untuk bertasymit (mengucapkan "Yarhamukallah"). Adapun menguap tak lain adalah dari syaitan, maka hendaknya dicegah sedapat mugkin. Apabila seseorang yang menguap dengan mengucapkan ha ha maka syaitan akan tertawa”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah t dari Nabi Muhammad r bersabda:
(( التَّثَاؤُبُ مِنَ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَكْظِمْ مَا اسْتَطَاعَ ))
“Menguap adalah dari syaitan, maka apabila salah seorang dari kamu menguap maka hendaknya ia mencegahnya sedapat mungkin”. (HR. Muslim).
Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudry t, ia berkata: bersabda Rasulullah r :
(( إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيْهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْهُ ))
“Apabila salah seorang di antara kamu menguap, maka hendaknya ia menutup mulutnya dengan tangannya, karena syaitan akan masuk darinya”. (HR. Muslim).
Dari Abu Hurairah t, ia berkata:
(( إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ وَلْيَقُلْ: اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوْهُ أَوْ صَاحِبُهُ: يَرْحَمُكَ اللهُ، فَإِذَا قَالَ: يَرْحَمُكَ اللهُ, فَلْيَقُلْ : يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ ))
“Apabila salah seorang di antara kamu bersin dengan mengucapkan "Al Hamdu Lillah", maka hendaknya saudaranya atau temannya mengucapkan "Yarhamukallah", maka hendaknya ia katakan (kepada temannya tadi) "Yahdikumullah wa yuslihu baalakum”. (HR. Bukhari).
Abu Musa Al- Asy’ari t berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah r bersabda:
(( إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَحَمِدَ اللهَ فَشَمِّتُوْهُ فَإِنْ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ فَلاَ تُشَمِّتُوْهُ ))
“Apabila salah seorang di antara kamu bersin dengan mengucapkan tahmid kepada Allah U (bacaan Al hamdu lillah) maka ucapkanlah kepadanya tasymit (bacaan Yarhamukallah) akan tetapi jika ia tidak mengucapkan tahmid, maka kalian jangan mengucapkan kepadanya tasymit” (HR. Muslim).




PENUTUP RISALAH:
NASIHAT TENTANG PENTINGNYA MASALAH INI

عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْمِ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيْ t عَنِ النَّبِيِّ r أَنَّهُ قَالَ: ((الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، قِيْلَ: لِمَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ ))
“Diriwayatkan dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Daari t dari Nabi r, beliau bersabda: “Agama adalah nasihat”, sahabat bertanya: "Untuk siapa wahai Rasulullah? Nabi r menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan para pemimpin Islam serta untuk kaum muslimin pada umumnya". (HR. Muslim).
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Al Bajali t, ia berkata:
بَايَعْتُ رَسُوْلَ اللهِ r عَلَى إِقَامَةِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ
“Aku berbai’at kepada Rasulullah r untuk mendirikan shalat, membayar zakat, dan menasihati setiap muslim”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Diriwayatkan dari Anas bin Malik t, dari Nabi r bersabda:
(( لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ))
“Tidak sempurna Iman salah seorang di antara kamu, sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai diri sendiri”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Diriwayatkan dari Abu Mas’ud Al Anshari t, dari Nabi t bersabda:
(( مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ ))
“Siapa saja yang menunjukkan jalan kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya". (HR. Muslim ).
Inilah akhir apa yang dapat saya himpun, dan saya mohon kepada Allah U agar buku kecil ini bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat.
Segala puji bagi Allah U, Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad r, kepada keluarganya, para sahabatnya dan siapa saja yang mengikuti jejak mereka dengan baik sampai hari kiamat.


10 Dzul Qa’dah 1409 H.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.

Profil PP Darul Qur'an Cimalaka Sumedang

PONDOK PESANTREN DARUL QUR’AN
Tandang Bersama Masyarakat Sumedang

Adalah seorang Kyai yang memiliki cita-cita yang mulia, himmah yang tinggi dan penuh kharismatik serta ditunjang dengan keahlian dan kemampuan yang dimilikinya almarhum K.H.R.Zainal Muttaqien, putra dari seorang ulama besar pimpinan Pondok Pesantren Ath Thohiriyah Tengger Limbangan Garut yakni K.H.R.Muhammad Ilyas pada tahun 1985 mendirikan Pondok Pesantren yang bernama “Darul Qur’an”. Tepatnya terletak di Kota Kecamatan Cimalaka Kabupaten Sumedang.
Berdirinya Pondok Pesantren Darul Qur’an ini menempuh perjalanan dan perjuangan yang sangat berliku-liku dan proses yang panjang sealur dengan langkah kehidupan Kyai pendiri dan sekaligus pengasuh Pondok Pesantren tersebut. Karena bermula dari sekedar mengajar santri di rumah Kyai kemudian mendirikan madrasah yang hanya berukuran 12 x 16 m2 hingga sampai akhir hayatnya (9 Desember 1998) beliau meninggalkan dan mengembangkan dua cabang Pondok Pesantren lainnya yaitu Pondok Pesantren Darul Qur’an II kecamatan Paseh dan Pondok Darul Qur’an III (Darussalam) Citimun Cimalaka.
Pada saat ini sepeninggalnya almarhum K.H.R. Zainal Muttaqien Pondok Pesantren Darul Qur’an dipimpin oleh Generasi penerusnya yang merupakan menantu dari almarhum pendiri Pondok Pesantren tersebut yaitu K.H Drs. Cecep Parhan Mubarok, M.H yang juga beliau berkarier sebagai Hakim pada peradilan Agama.
Dalam perkembangannya Pondok Pesantren Darul Qur’an disamping menampilkan kekhasannya yakni dalam bidang Qiro’ah dan ilmu-ilmu al-Qur’an dimana para santrinya telah banyak berprestasi di tingkat Nasional terutama dalam bidang fahmil Qur’an, tilawah Qur’an, hifdzil Qur’an, serta tafsiril Qur’an. Juga banyak mendalami pengajian kitab- kitab kuning sebagaimana layaknya pondok pesantren salafiyah baik dengan metode bandongan maupun sorogan. Satu hal yang sangat menonjol dirasakan oleh para santri dan para alumni serta penerus pondok pesantren Darul Qur’an yakni sistem pengajaran yang diwariskan oleh pendiri pondok pesantren adalah santri dituntut untuk belajar aktif tidak hanya dijejali dengan materi-materi pelajaran dari sang kyai melainkan bagaimana santri itu sendiri menjadi dewasa dan mampu mengembangkan serta dapat mengimplementasikannya secara mandiri. Sebagaimana tujuan yang telah digariskan oleh pendiri pontren, yakni untuk mencetak generasi yang beriman, bertaqwa, berilmu pengetahuan, mandiri dan berakhlaq al-karimah
Pada umumnya santri dan santriah yang mondok di Pondok Pesantren Darul Qur’an adalah pelajar. Mereka belajar di pondok pesantren juga di sekolah baik ditingkat SLTA (MAN, SMU,STM,SMEA,SPMA dan SPK) maupun di SLTP (SMP dan MTs) dan SD. Karena secara kebetulan lokasi pondok pesantren Darul Qur’an berdekatan dan disekitarnya terdapat berbagai sekolah formal dari semua tingkatan baik Sekolah Umum maupun Kejuruan serta mudah dijangkau dari Ibu kota Kabupaten Sumedang. Mereka para santri-santriah adalah berasal dari berbagai daerah di kabupaten Sumedang dan luar kabupaten Sumedang, antara lain dari Majalengka, Bandung, Garut, Subang, Purwakarta, Bekasi, Jakarta dan Luar Jawa (Lampung, Riau, NTT dan TIM-TIM sekarang Negara Timor Lorosae).
Adapun tenaga pengajar (asatidz) yang membantu kiyai disamping pengurus pesantren yang senior diambil pula dari alumnus, baik yang sudah sarjana maupun masih studi di Perguruan tinggi.
Dalam kurun waktu kurang lebih 24 tahun Pondok Posantren Darul Qur’an telah mengeluarkan lebih dari 2000 santri mutakharrijin (alumni), dari mereka ada yang terus melanjutkan studinya dan adapula yang mukim mendirikan Pontren dan Majelis Ta’lim di beberapa daerah. Juga mereka banyak yang bekerja dalam berbagai lapangan pekerjaan baik swasta dan negeri. Ada keunikan pada Alumni Pontren DQ entah karena tafa'ul (mengikuti jejak langkah pendiri pesantrennya) atau karena pengaruh milieu sumedang, dimana kebanyakan mereka menjadi pegawai negeri/pejabat akan tetapi mereka berperan ganda sebagai ulama, kiayai, ustadz dengan lembaga-lembaga keagamaan yang disandangnya memimpin pesantren, Madrasah, Majelis ta'lim, taman pendidikan al-qur'an dan lain-lain yang bergerak dalam bidang dakwah dan pendidikan islam. Mereka terhimpun dalam Ikatan Alumni Pondok Pesantren Darul Qur’an (IKADA).
Dewasa ini Pontren Darul Qur’an dibawah pimpinan K.H.Drs. Cecep Parhan Mubarok, M.H. disamping memelihara apa yang telah dirintis oleh pendahulunya, juga mencoba untuk lebih mengoptimalkan fungsi dari pondok pesantren tersebut baik fungsi sebagai lembaga pendidikan, lembaga penyiaran agama maupun lembaga sosial kemasyarakan. Hal ini dibuktikan dengan di canangkannya program-program baru yang tidak hanya sekedar untuk lingkungan santri yang mondok di pesantren tersebut melainkan lebih pro aktif untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya, sehingga kehadiran pondok pesantren benar-benar dirasakan manfaatnya dan masyarakat mempunyai rasa memiliki yang sangat tinggi.
Lembaga-lembaga pendidikan yang kemudian dikembangkan oleh penerusnya, diantaranya menyelenggarakan pendidikan Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) tahun 2005, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) tahun 2005, dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Terpadu tahun 2006, kini dari tahun ke tahun menunjukan peningkatan baik dari kuantitas maupun kualitas.
Berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan baru di lingkungan Pontren Darul Qur’an telah menuntut untuk dilengkapinya sarana dan prasarana yang baru; di samping rehab terhadap asrama putra-putri, aula yang lama, sekarang telah dibangun bangunan baru untuk gedung MDA dan MTs, asrama putra, lapangan upacara dan olah raga, Komputer dan Teknologi Informasi (internet) gratis, serta sarana olah raga dan seni lainnya.
Untuk membekali kemandirian para santri dan santriah terutama dalam bidang skill intelektual, Pondok Pesantren Darul Qur’an disamping kegiatan belajar mengajar juga aktif menyelenggarakan kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler seperti; Keterampilan, Komputer, perikan, pertanian, peternakan, dan Kopontren Demikian profil singkat dari Pondok Pesantren Darul Qur’an, semoga kifrahnya dalam perkembangan pendidikan Islam dan pembinaan ummat dapat terus meningkat serta maju tandang bersama masyarakat sumedang. Amien

Selasa, 14 Juli 2009

Opini

MTQ BUKAN UNTUK MTQ

Oleh: Drs. H. Cecep Parhan Mubarok, M.H.

Rois Majelis Ilmi Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz Kab. Sumedang

Menanggapi pernyataan Menteri Agama RI dalam harian yang sama tanggal 23 Juni 2009 tentang rencana pemerintah mengevaluasi penyelenggaraan MTQ tingkat Nasional yang dinilainya pemborosan dan mubadzir karena terlalu mewah dan penuh dengan acara seremonial, perlu kiranya kami memberikan sumbang saran kepada pemerintah dalam hal ini menteri agama dan instansi-instasi terkait untuk lebih komperhensip dalam mengevaluasi penyelenggaraan MTQ tidak hanya sekedar keberatan dalam hal besarnya pembiayaan, apalagi kalau hanya mempersepsi MTQ untuk MTQ, artinya MTQ tingkat lebih rendah dipersiapkan untuk MTQ pada jenjang MTQ selanjutnya yang lebih tinggi. Hal ini bisa berakibat berkurangnya semangat pemberantasan buta huruf al-Qur’an dan pada gilirannya akan menghilangkan hidup dan membuminya al-Qur’an di tengah masyarakat bahkan akan menjadikan stagnasi penggalian ilmu-ilmu yang bersumber dari al-Qur’an pada institusi-institusi yang selama ini giat mendidik generasi Qur’ani seperti Taman Pendidikan Al-Qur’an, TPQ, MDA dan Pondok-pondok pesantren al-Qur’an.

Penyelenggaran MTQ di Indonesia tidak bisa disamakan dengan MTQ yang diselenggarakan oleh Negara-negara lain yang hanya cukup dilaksanakan di hotel walaupun tentu secara substansial ada kesamaannya, karena mempunyai kultur dan latar belakang sejarah yang berbeda, demikian halnya dengan acara seremoni yang mengiringinya, terlebih setelah menjadi program rutin pemerintah muatan dan tujuannya selalu dikemas dalam bingkai ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah (kerukunan ummat beragama). Secara historis MTQ telah dikenal dibumi Nusantara jauh sebelum pemerintah mengadopsinya sebagai program pemerintah pada tahun 1969, dimana pada saat itu MTQ di samping dijadikan ajang untuk menguji kemampuan santri dalam bidang tilawah dan qiraah, juga sebagai media silaturahmi antara komunitas pesantren yang satu dengan pesantren yang lainnya, kiyai dengan kiyai, santri dengan santri, atau kiyai dengan santri, hal ini yang sangat kental terasa hikmahnya sampai saat sekarang. MTQ juga alat pemersatu bangsa di Indonesia dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Saudara mayaritos non muslim merasa diakui dengan hadirnya saudara mereka yang muslim utusan dari daerahnya ikut dalam pentas MTQ Nasional.

Gema dan Syi’ar MTQ atau STQ dalam setiap tingkatan telah membawa hikmah yang banyak dalam dakwah islam bukan hanya sekedar perolehan kejuaran oleh orang perorang atau membawa prestasi daerahnya, tetapi telah mampu mendorong lahirnya generasi yang konsen (tafaqquh) mengeksplorasi seluruh dimensi yang ada dalam al-Qur’an, mulai dari murattal, tilawah, tahfidz, tafsir, seni kaligrafi alqur’an, penulisan karya ilmiyah al-Qur’an dan lain-lain yang berhubungan ilmu qira’ah dan isi kandungan al-Qur’an. Hal itu semua pada giliranya telah membawa sumber daya muslim Indonesia menjadi lebih berkualitas.

Sekedar testimoni di daerah kami kabupaten Sumedang, sebelum adanya musabaqah hifdzil Qur’an, penghapal Juz ‘amma (Juz ke 30) masih dapat dihitung dengan jari, tetapi setelah MHQ menjadi salah satu cabang dari MTQ jangankan penghafal juz ‘amma yang sudah ribuan orang, penghafal 30 juz pun yang dulunya minus sekarang semakin menunjukan peningkatan secara kuantitas maupun kualitas. Demikian pula dengan cabang tafsir yang dulu orang menjadi mufassir dianggap tabu tetapi sekarang bermunculan mufassir-mufassir muda yang fashih berbahasa arab dan hafal 30 juz al-Qur’an, pengkajian kitab-kitab tafsirpun di pesantren-pesantren salafi yang dulu hanya sebatas kitab tafsir jalalain karya Imam Jalaluddin Al-Suyuthi dan Jalaluddfin al-Mahalli tetapi Musabaqah Tafsir Qur’an telah membuka wawasan para santri dan kiyai pada referensi-refensi kajian kitab tafsir yang lebih banyak, luas dan modern. Kemudian tradisi membaca qira’an sab’ah yang dulu mengalami stagnasi dan hampir mati di lingkungan pesantren-pesantren al-Qur’an, kini hadirnya Musabaqah qira’ah sab’ah (tujuh macam bacaan) bukan hanya hidup di lingkungan pesantren Al-Qur’an tapi selain pesantren al-Qur’an pun mulai mempelajarinya.

Kegiatan MTQ adalah salah satu bagian dari banyaknya kegiatan-kegiatan monumental lainnya yang telah terbukti membawa dampak positif bagi perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, tentu tidak bisa dianggap kecil yang cukup dengan biaya murah, sementara itu kita bersaing dengan kegiatan-kegiatan yang mendorong pada terciptanya gaya hidup yang tidak islami, dekat dengan maksiat, merusak akhlak dan mental bangsa namun disuport dengan biaya milyaran rupiah dan penyelenggaraannyapun hampir setiap minggu terencana dengan baik, tentu MTQ atau STQ harus lebih ditata lagi secara baik,berkembang semakin hidup dan moderen dengan anggaran yang adil dan berimbang karena disana ada pendidikan, ada santri yang berprestasi yang harus dihargai, ada ulama atau kiyai yang perlu dihormati dimana mereka kesehariannya mendidik dengan ikhlas tanpa bayaran tapi mereka punya obsesi besar untuk mensyi’arkan dakwah Islam tetapi tidak punya anggaran namun diyakini punya dampak yang baik bagi institusi pendidikan yang ditekuninya. Oleh karena itu hilangnya atau dipersempitnya penyelenggaraan STQ atau MTQ Nasional dikhawatirkan akan memberikan efek berangkai negative terhadap penyelenggaraaan even MTQ atau STQ di bawahnya hingga akhirnya la yahya wa la yamut (tidak mati dan tidak hidup). Harus diingat disini bahwa birokrasi atau masyarakat kita di bawah masih kental dengan pola anutan (faternalistik) termasuk anutan terhadap penyelenggaraan MTQ yang didorong dengan baik oleh pemerintah pusat akan berakibat baik terhadap penyelenggaraan di bawahnya, kini di tingkat desapun di tanah air kita sepanjang penulis alami dan berbagi pengalaman dengan tokoh-tokoh ahli qira’ah (per-musabaqah-an) di Indonesia sudah sulit mencari pemerintahan desa yang secara langsung menyelenggarakan MTQ atau STQ tingkat desa.

Penyelenggaraan per-MTQ-an di Indonesia memang masih banyak kelemahan yang belum di-manage dengan baik, misalnya : Penyelenggara yang belum sepenuhnya professional; pola pengaturan peserta yang tidak tegas dan cenderung banyak disimpangi tertama usia peserta maupun tentang asal-usul (domisili) peserta, contohnya peserta yang sudah usia remaja masih mengikuti tilawah tingkat anak-anak, peserta usia mahasiswa masih mengikuti musabaqah fahmil qur’an yang seharusnya diikuti oleh murid-murid Madrasah Aliyah/SMA ke bawah ; Pola pemberian penghargaaan dan penghormatan terhadap peserta berprestasi masih minim dan diskriminatif apabila dibandingkan dengan pemberian penghargaan kepada atlit yang selama ini getol diperjuangkan oleh Menpora Adiyaksa atau pelaku seni dan lain-lain walaupun pelaku lainpun merasakan yang sama tapi masih lebih baik; Rekruitmen dan penetapan dewan hakim belum sepenuhnya mencerminkan professionalisme dan berintegritas moral; Pola pembinaan baik sebelum maupun sesudah MTQ masih jauh dari berkesinambungan kalaupun ada masih bersifat informal dan non formal atau di luar struktur Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ)., Aspek pengembangan sudah cukup baik, tetapi harus tetap dipertahankan dan berorientasi menarik manfa’at yang sebesar-besarnya bagi pendidikan dan dakwah Islam.

Kelemahan-kelemahan tersebut seyogyanya menjadi bahan evaluasi pihak-pihak terkait dan secepat mungkin untuk diantisipasi supaya tidak menimbulkan persepsi yang negative terhadap per-MTQ-an, bahkan dalam hemat kami justru salah satu yang harus mendapat revitalisasi substansial dan anggaran di lingkungan Departemen Agama adalah per-MTQ-an karena di sana ada dakwah dan pendidikan Islam. Wali Kota Bandung H. Dada Rosyada dalam penutupan MTQ tingkat propinsi Jawa Barat pernah menekankan pentingnya MTQ sampai beliau berambisi untuk memprogramkan MTQ sebagai even musabaqah bulanan. Demikian, mudah-mudahan penyelenggaraan MTQ atau STQ semakin baik, efektif dan efesien juga terbebas dari noda kecurangan, kolusi, mubadzir apalagi korupsi.